Kamis, 28 April 2011

Faza dan Antri

Kata ayah, budaya yang belum berlaku baik di Indonesia adalah budaya antri. Kok bisa ya? Itu karena masih banyak individu yang tidak bisa bersabar untuk mendapatkan haknya. Masih banyak individu yang merasa dirinyalah yang paling penting dan paling berhak, hingga menganggap remeh kepentingan orang lain.
Kita bisa melihat contoh dari negeri Jepang yang baru-baru ini mendapat bencana tsunami. Saat bantuan sandang dan pangan tiba, para korban tsunami berbaris rapi untuk mendapatkannya. Tidak ada satupun gambaran orang-orang yang dorong-dorongan, terjepit, terjatuh, atau terinjak. Antrian itu hanya dijaga beberapa orang polisi, yang mungkin fungsinya bukan untuk menjaga antrian. Tapi lebih menjaga kemungkinan ada yang pingsan saat antrian, maklum yang antri banyak orang tua. Setiap orang di dalam antrian mengambil sendiri jatahnya di dalam tumpukan bantuan, tanpa berusaha mengambil lebih.
Duh, hebatnya orang-orang yang bisa menjaga perasaan orang lain, masih punya rasa malu, tidak tamak, berbagi saat semuanya juga susah.
Semoga kedepan Indonesia bisa seperti itu ya. Aminn...

Kamis, 31 Maret 2011

Faza dan Panggung

Minggu lalu, Faza dibawa ayah ke sebuah gedung pertunjukan di Pontianak. Disana sedang berlangsung gladi resik sebuah pertunjukan teater. Kebetulan yang bermain di pertunjukan itu adalah teman-teman ayah di sanggar teater Topeng Pontianak.

Di sana untuk pertama kalinya Faza melihat panggung dari dekat. Panggung itu sebuah tempat yang luas, dimana terdapat banyak lampu berwarna-warni di atasnya. Selain lampu, di atas panggung juga ada kotak-kotak hitam yang dapat mengeluarkan suara dengan keras.

Karena saat itu sedang gladi resik, Faza diizinkan oleh sang sutradara, om Budi Kk, untuk berkeliling di atas pentas. Dan Faza tidak sendiri, ada juga teman sebaya Faza, Rizki dan Icha, turut bermain bersama.

Ternyata seru juga ya melihat pertunjukan secara langsung, walaupun masih berupa gladi resik.
Apalagi bertemu langsung dengan para pemainnya. Om dan tante yang tadinya bercanda dengan Faza di belakang panggung, tiba-tiba menangis, teriak, marah-marah di atas panggung. Ayah bilang, itu karena tuntutan sekenario. Ada yang jadi penjahat, ada juga yang jadi orang baik. Ada yang ganteng, ada yang jelek, juga yang lebai...
Pokoknya semuanya berubah saat di atas panggung.

Hmm....ternyata begitu ya dunia panggung, semua yang berada di atasnya harus mengenakan topeng, menyesuaikan perannya. Dan semoga topeng hanya digunakan di panggung pertunjukan seperti ini, dan bukan di atas panggung politik. Amin....

Minggu, 27 Februari 2011

Faza dan Sempoa


Tidak banyak yang bisa Faza ceritakan kali ini.
Karena Faza sedang di dalam masa yang sibuk.
Sibuk bermain dan belajar bicara banyak.

Lagipula, saat ini Faza sedang menunggu kedatangan adik Faza keluar dari perut Bunda.
Kasihan Bunda, karena perut Bunda sering ditendang-tendang adik. Selain itu, diperut Bunda juga ada gumpalan daging yang sering membuat bunda sakit. Kista namanya.

Bicara tentang nama, kok segumpal daging sudah punya nama? Sedangkan adik Faza belum?
"Tuh, tanya Ayah, siapa nama adik Faza," jawab Bunda singkat.
Faza tanyakan ke Ayah, ia hanya bisa garuk-garuk kepala. Ketombenya kumat kali ya?!

Yah begitulah teman-teman...
Faza mohon doa, semoga Bunda dan adik Faza selalu dalam keadaan sehat walafiat.
Bila punya ide untuk nama, tolong kasi tahu Faza (menurut prediksi dokter, adik Faza perempuan).

Faza mohon maaf, isi tulisannya tidak nyambung dengan judulnya....
Maklumlah, Faza sedang tidak konsen nih.
Selebihnya,
Terima kasih atas perhatiannya ya :)

Senin, 17 Januari 2011

Mahal, Yah!!!

Menurut ayah, semua di dunia ini mempunyai harga. Tidak ada satupun yang tidak. Namun, menurut ayah lagi, sesuatu yang begitu berharga untuk seseorang, mungkin tidak berharga untuk orang lain.

Selembar 50 ribuan rupiah, mungkin sangat berharga buat ayah. Tapi sebaliknya, mungkin tidak begitu berharga buat seorang Gayus Tambunan. Hanya sekedar uang receh, karena nilai uang yang dimilikinya beribu kali lipat dari uang yang dimiliki ayah (atau jangan-jangan berjuta kali lipat). Yang paling berharga bagi Gayus saat ini adalah kebebasan. Kebetulan ayah punya kebebasan yang lebih banyak dibanding Gayus. Hanya sayang tidak bisa dibagi. Bukan karena ayah pelit. Cuma tidak bisa saja, kata ayah.

Tapi tidak semua di kehidupan dapat kita hargai dengan uang. Banyak hal yang tidak dapat dibeli oleh uang. Cinta, kasih sayang, misalnya, tidak dapat dibeli. Bila cinta dan kasih sayang bisa dibeli, maka cinta dan kasih sayang itu adalah palsu. Cinta dan kasih sayang yang ayah, bunda dan Faza rasakan dan bagi bersama, tak ternilai harganya.

Banyak lagi hal yang tidak bisa dibeli. Kejujuran misalnya. Ketika ia berhasil dibeli, maka sulit untuk memperolehnya kembali. Kembali lagi Gayus sebagai contoh (maaf ya pak Gayus), kejujurannya telah berhasil dibeli. Berapa pun uang yang dimilikinya saat ini, tidak akan sanggup untuk mengembalikan nilai kejujuran pada Gayus. Semua orang tidak akan lagi percaya padanya.

Maka, lanjut ayah, tentukanlah harga dalam kehidupan dengan kejujuran. Ketika kejujuran menjadi patokan, maka banyak hal dalam kehidupan menjadi berharga. Dengan banyak yang berharga, kita menjadi mudah bersyukur dalam hidup. Dengan bersyukur, maka kita akan mudah merasa bahagia.

Yah...begitulah yang ayah sampaikan mengenai harga.
Walau Faza tidak begitu mengerti. Yang pasti, terakhir Faza minta dibelikan sepeda, ayah cuma berkata singkat, "Mahal, ayah tidak punya uang!".
Ketika Faza jawab, "Nih, uang Faza ada!", ayah menyambarnya pendek, "Uang Faza kurang nol nya!".

Kesimpulannya...Bila menyangkut harga barang, sebelum ayah berceramah panjang lebar, Faza cuma bisa bilang, "Mahal, Yahhh!!!!"....hihihihihi

Rabu, 01 Desember 2010

Faza Mengejar Impian


Siapa yang tidak tahu kupu-kupu. Sayapnya yang indah. Terbangnya bagai tarian peri. Duh...indahnya :)

Suatu hari, saat Faza sedang bermain di halaman, melintaslah seekor kupu-kupu (Seekor atau sebuah sih? Kupu-kupukan tidak punya ekor?!). Kecantikan dan kelincahannya membuat mata Faza tak lepas dari sosoknya. Tapi, begitu lincahnya, beberapa kali kupu-kupu itu menghilang dari pandangan. Ke kiri, ke atas, ke bawah, ke kanan, begitu cepat hingga sulit untuk diikuti oleh mata.

Wah, wah, waahhh...
Sungguh membuat Faza ingiiin menangkap dan memilikinya.
Hup! Faza pun bergegas mengejarnya. Namun sayang, kupu-kupu itu semakin tinggi, tinggi, dan tinggi terbangnya. Tanpa sadar, Faza berlari ke arah yang salah. Hingga....BRAKK! Tumbalen!!!...Duh...Faza menabrak pohon yang tak bersalah teman-teman. Aduuuuuhhh...Sakitnya...Membuat Faza tidak dapat lagi menahan tangis.
"Huaaaaaa....huaaaaa...huaaaaaaaa", begitulah kira-kira tangisan Faza.

Ternyata tangisan Faza terdengar oleh ayah. Ayahpun bergegas menghampiri Faza.
"Kenapa, Faza?" tanya ayah sedikit cemas.
Lalu, Faza ceritakan kejadiannya dengan terbata-bata.
"Oohhh...begitu", senyum ayah merekah seusai mendengar cerita Faza.
Lantas Faza digendong ke arah tempat yang teduh. Kemudian kami duduk bersama dengan Faza di atas pangkuannya.

"Begini ya, Faza. Saat Faza menginginkan sesuatu, jangan lupa untuk melihat kiri kanan, tidak boleh melupakan pijakan. Dalam mengejar sesuatu, Faza harus selalu berhati-hati, hingga terhindar dari celaka", jelas ayah panjang lebar.

"Oooooo....ya...ya...ya", jawab Faza setuju sambil menganggukkan kepala.
Walau dalam hati....sumpah!....Faza tidak mengerti....hihihi...

Intinya mungkin begini ya teman-teman...
Bagi yang gagal meraih impian di tahun 2010, selamat mencoba lagi di tahun 2011. Tapi hati-hati, nanti nabrak pohon....hihihihi

Sukses buat semua :)